Wednesday, March 16, 2016

bittersweet.

Bismillahirrahmanirrahim.



"At times we need people to understand
Sometimes we are too weak to drive
Even sometimes too tired to walk
Too sleepy to open our eyes."
-Dr M



Reading a status by Dr. M, a houseman in ppukm, reminded me of myself.

Everyone have their own struggles. Once my supervisor said that, di antara tanda-tanda deppression and sadness pada seseorang ialah

loss of early morning awakeness and spirit


And this is one of the common thing that can happen, to you and me.



Bila bangun pagi, feeling lost and numb.

Teringat masalah semalam yang belum selesai.

Terasa penat badan yang belum hilang.

Hari ni pula ada benda baru yang nak disettlekan.


Kadang-kadang kita call rumah dengan harapan untuk release stress tu, but it wont work in every times. Parents want to ventilate their feelings too.

Thus sometimes all this feelings make us forgot to cheer up and smile. Jumpa orang pun muka keruh je. And as a result we got the tension type of headache T.T 

Teringat di surgery dulu, ada seorang houseman yang pregnant. One of the thing that I remembered about her is how sweet and calm she is. Di ppukm selalunya tak banyak sangat houseman, thus the workload is high.

Di surgery department, semua orang bergerak dengan sangat pantas. Even some of the surgeon use a roller blade to move around -,-. Ward round pula banyak kali, mula-mula MO round, kemudian specialist, and bila consultant surgeon datang diorang akan round lagi start dari awal. 

Selalu sy tengok houseman kat sini bergerak macam kelawar, dengan white coat beterbangan, jalan macam lipas kudung. huhu.

Kembali pada houseman yang tadi. Dia dengan pregnantnya berjalan sana sini T.T. Sampaikan ada sekali tu waktu ward round, ada surgeon yang complaint sebab dia lambat. Bayangkan bila orang complaint pasal kita. Makhluk yang bernama houseman ni apatah lagi, dah namanya kasta paling bawah memang selalu kena T.T.

Tapi kakak dokter ni, macam mana stress pun situasi tu, dia senyum je. Banyak maniskan muka dan nampak sangat tenang. Tak nampak depressed pun. Even tak takut-takut macam sesetengah houseman lain. She just continue to do her job.

Its like, 

after all life must go on. 

hu. 


Bila tengok orang macam ni, somehow kita jadi terinspirasi. I think it is not because she never get mad or upset, but she just choose to get over it. Entah dari mana dia dapat continuous positive vibes tu. 

Macam pokok, orang baling batu, kita balas dengan buah.

There are doctors when they got very tired and busy they'll just kick you off. Lantaklah korang students, korang bukan tahu pape pun. But for a certain doctor,  they know students are there to learn thus even if they are somewhat very busy and cannot do a proper teaching, at least they'll do running commentaries in every procedures they did.

May Allah bless these kind-hearted people :) 

Thus, biidznillah..

Somehow its a choice, 

of what kind of people we want to be. 

What kind of spirit we want to carry on. 

And to build a larger heart <3

:')






Sunday, March 13, 2016

Imperfections.

Bismillahirrahmanirrahim..

Dalam kekalutan, akhirnya sempat berjumpa kak Zatel sebelum dia mula posting di Perak, alhamdulillah.

I believe Allah has made His plan. Perkenalan dengan kak zatel cuma sekejap, tak sampai pun dua tahun. But we manage to create some memories together :')



:')


Pernah terjumpa dia menangis dalam surau hospital sebab posting peads, hampir-hampir nak give up with housemanship.

Saya pujuk dia, sebab tinggal sikit je lagi. 

She told me, every person have their own experiences with various level of difficulties. And the bearable pressure is also different. As for her, she has her own experiences and pain.


Ada orang rasa HO-ship ni senang, ada yang struggle, ada juga yang deppressed. You just have to know what is your bearable pressure and sustained yourself under it. If you need help, then seek for help. 

You always think that you dont have choice. Terpaksa jadi doktorlah, terpaksa jadi itu dan ini. But no, we always have a choice. If you need to be a doctor, then be one. 

Cuma jangan sampai terkorban.

Kadang-kadang kita lupa, ramai lagi yang sayangkan kita dan boleh terima walaupun kita tak sempurna. But we are too anxious and nervous with our flaws.

hu 


hujan

Ada kenangan yang manis juga :')

Pernah ke mukhayyam bersama,

Mendaki broga bersama,

Pernah juga jadi peneman waktu dia nak uruskan hal pertunangan dengan pasangan.

Hingga akhirnya meraikan hari bahagia dia di walimah <3

..........................................


Macam kata murobbi, orang yang attach dengan kita, hingga rasa sayang dalam hati ni ialah bila kita lalui banyak pengalaman, susah dan senang bersama. 

Dan dalam banyaknya flaws, we accept each other for who we are.

Benda ni tak boleh dapat dalam kuliah yang skema, atau usrah yang skema. Atau dalam usrah yang perfect segala macam teknikalnya. Kadang-kadang kita perlukan imperfections tu supaya boleh saling melengkapkan.


Dalam halaqah kami ada bermacam background manusia,

Ada accountant, engineer, doctors, houseman, translator, cikgu, student etc.

Kadang-kadang yang houseman datang usrah tidur je.

Yang ada anak kecik berkejaran je.

Kalau diikutkan nilah antara halaqah yang paling cacamarba dalam dunia. huhu

Tapi lama-lama taaruf, tafahum, takaful, taa'wun tu boleh berlaku juga, dengan izin Allah. Hanya bila kita buka hati dan berlapang dada dengan segala kekurangan.







Dan semua ni kita tak akan achieve jika hanya menadah tangan untuk menerima. Adakalanya kita harus memberi. Bercakap mengenai tuntutan ukhuwah tu senang tapi tak semua mampu buat.

Menolong di saat dia benar-benar memerlukan.

Memahami dan bersangka baik,

Saling cover dan topup kelemahan masing2.


Ada kata-kata terakhir kak zatel yang terkesan di hati,

"If you always want ideality in something, you might end up losing it."

Kalau kita sentiasa nak sesuatu berlaku ikut kehendak hati kita, berada dengan manusia2 yang sempurna, sistem yang sempurna, keperluan yang sentiasa cukup, masa yang tepat, we might just lose it.

If only we know the need of being fleksible.. Kerana kadang-kadang kita tak sedar, bila mana rigidnya kita pada satu prinsip, ianya menyakiti orang lain..




" Meski yang menghubungkanku dengan seseorang
hanyalah selembar benang, akan ku jaga.
Jika dia ulurkan, akan kukencangkan.
Jika dia kencangkan, akan kukendurkan."

-Muawiyah ibn Abi Sufyan-
(Dalam Dakapan Ukhuwah: S.A Fillah)


















Thursday, February 25, 2016

Baby steps.

Bila dah melangkah tahun ke 5 study, alhamdulillah diizinkan untuk melalui beberapa posting.


Medical,

Public health,

OnG,

Surgery,

Orthopaedic,

Paediatric,

Otolaryngology (ENT),


and currently, 

Ophthalmology.


But among all, there are two postings that I feel close to, which are medical and paediatrics. 

Medical memang sebab posting ni yang paling banyak berendam air mata dulu. hu. And because it covers many things that we can relate with. 

Paediatrics pula sebab ianya unik. Dan yang paling kerap ditanya oleh rakan-rakan bukan medical for a simple consultations.

Rakan-rakan ye. Because many of my friends already have their own kids and toddlers. 

^^'


There was one time in paediatrics when we had an extra teaching with Dr.Z. In that session, I performed a newborn screening to a baby.

Pegang baby pun takut-takut. Apatah lagi bila nak kena tungging terbalikkan waktu buat screening. Alahai dah namanya pun baby. Tambah anak orang. 


Dr. Z gelak je. In the end he asked,


" Athina, kamu ni dah kahwin ke belum..? "

**geleng**

" Kena ada anak sendiri dulu ni, baru tak kekok. "

Dia gelak lagi.

While I'm struggling to manipulate this tiny little creature. 

^^' 

Actually, i do agree. Sebab skill ni bukan benda teori. Kena sentuh baru rasa, kena biasakan baru sempurna. Things go naturally when we are used to it. Dan daripada paediatrics ni, banyak benda kita boleh belajar.

One of it is to go through steps, with patience. Walaupun kadang-kadang ianya step yang kecil, dan nampak leceh.






Antara benda yang rakan selalu tanya mengenai anak mereka ialah proses pembesaran. Kebanyakan parents nak anak mereka cepat segala serbi. Cepat berjalan, cepat berlari. Ada yang anak masih terlalu kecil, belum merangkak dah diletak dalam walker supaya cepat berjalan.

Memang dengan cara tu ada budak yang cepat berjalan. Kemudian bila parents ni saling compare anak masing2, kadang-kadang buat parents lain rasa anak mereka agak slow serba serbi.


**sigh**


Hakikatnya, apa yang nampak cepat tu tak semestinya lebih baik. Ada research mengatakan bahawa budak yang skip merangkak ni walaupun mereka berjalan dengan lebih cepat, tapi kemahiran gross and fine motor mereka lebih jauh ketinggalan berbanding budak yang melalui steps yang biasa, baby steps. 

Sebab budak yang merangkak mereka belajar sesuatu sepanjang 'rangkakan' mereka tu. hu.

Jadi yang selalu sy ingatkan, give as much stimulation as you can, and just beware if there are any delay from the normal phase rather than excessively try to speed up things unnaturally.



*************************************************************************************************



Macam tu juga hidup ni.

Melalui masa yang panjang untuk capai sesuatu mengajar kita untuk banyak bersabar. Malah di sepanjang proses tu, kita berpeluang membina diri dan kutip pengalaman.

Ada orang ambil medical degree 5 tahun, ada yang 6, 7 tahun.

Ada yang asasi, ada yang diploma. Yang A level pun ada yang setahun je, ada yang 2 tahun. Things are beyond our control. Yang kita mampu hanyalah terus berusaha, dan jangan saling membanding-bandingkan.

Sebab kita tak tahu mungkin orang lain tu kutip lebih banyak pengalaman berharga yang lebih berguna secara hakikinya.

Like the baby who crawls before taking the first steps. 

They gain a better gross and fine motor.

Because when they crawl, sometimes they have to look up, using their short neck.

When they crawl, they play and grab more things on the floor, by using their delicate fingers.

And one day, they'll stand up and walk like a bear. Sometimes falls on their bumps but its okey. Pampers shall give a safe landing mat. 

Until they can walk alone and run intuitively, avoiding barriers and be safe


:')





Thursday, February 11, 2016

Minimalist

Bismillahirrahmanirrahim..



Sunset : Sg Petani

Sepanjang hidup, ada beberapa tempat yang benar-benar mendapat tempat di hati.

Kedah

Bandung


Melaka


Dan setiap satunya, ada benda dan sebab kenapa ianya istimewa. Boleh jadi kenangan, ataupun sesuatu yang ada di sana.

Di Kedah terletaknya rumah. Yang sebenar-benar rumah. Selain di kolej, hanya di rumah ini aku punya ruangan sendiri, tempat bekerja dan ruang rehat peribadi. Berbeza dengan Melaka, perasaannya beza. 

Bandung hanya ada kenangan.. 

Melaka juga ada kenangan.. dan keberadaan orang yang kita sayangi.. 

:'

**************************************************


Kadang-kadang aku terfikir, jika segala asbab ini hilang, rumah runtuh, hilang ingatan, adakah tempat-tempat ni masih istimewa di hati kita..? 

Begitu juga bidang perubatan, yang asalnya sungguh istimewa di hati..

Sekarang ni, di saat munculnya berbagai penyakit, hal perubatan selalu jadi topik perbualan. Namun semakin lama, aku makin malas untuk mendengar. Kita hidup di zaman teknologi di mana semua orang mempunyai akses internet dan sekaligus menjadikan mereka pakar perubatan segera. Hingga doktor-doktor dikatakan dungu dan diperlekehkan..

Ada juga golongan yang bercerita mengenai pemakanan sunnah dan mengutuk doktor yang memberi ubat-ubatan. Mengaku bahawa cara mereka lebih islami seolah-olah semua doktor ialah sekular dan lebih teruk lagi dikatakan boneka yahudi. Mereka tidak tabayyun sedangkan doktor juga ramai yang mempercayai pemakanan sunnah.

Dan yang epiknya, bapaku sendiri pernah berkata bahawa jika ditakdirkan dirinya jatuh sakit, dia tak mahu dirawat di hospital.


Frust. T.T


Sampaikan aku yang sudah hampir 5 tahun belajar terasa betapa bodohnya aku kerana memilih bidang ini, dan bersusah payah kerananya. 

Betapa naifnya.

Lebih baiklah doktor-doktor di Malaysia ni dihantar saja ke Syria dan Gaza sana. Sekurang-kurangnya mereka boleh menyelamatkan nyawa, mengurangkan kesakitan bagi mereka yang benar-benar memerlukan.



T.T

Dan kalau diikutkan, sebenarnya tak banyak sebab untuk orang suka buat medic ni. Aku perlukan sedikit motivasi. Hu.


Nak bantu orang ? Pesakit dah tak mahu dibantu.

Kerja stabil ? Doktor sekarang banyak yang menganggur.

Kerjanya hebat ? Manusia mana yang suka kerja berbelas-belas jam, dengan darah, penyakit dan segala kotoran.

Minat ? Bila dah penat kita tak peduli lagi.



Yang sebenarnya, perasaan kita berubah-ubah kerana semua alasan ni sifatnya berubah dan tidak kekal :(

Seperti manusia. Rupa, status, harta. Benda-benda ni menarik perhatian, namun ianya bersifat sementara. Akhirnya yang kita mahukan hanyalah satu sosok yang menenangkan hati.. Sebaliknya bila disandarkan pada benda yang sementara, kita akan mudah hilang cinta dan obsesi tu bila sedar bahawa nikmatnya cuma sekejap.


Ada sekali tu waktu usrah, makcik menasihati kami akan sesuatu yang bermakna,


" Try to train yourself to be a minimalist. "


Because sometimes without  realizing it, we are taking and expecting more than what we actually need. Kerana itu kita kecewa dan tidak pernah merasa puas..

Minimalist ni, ialah bila kita tak tamak dan hanya ambil apa yang kita benar-benar perlukan. Dan dalam konteks ni, yang kita perlu hanya redha Allah dan amal yang diterima. 

Pesan makcik lagi,


"Seorang mukmin yang memiliki kekuatan dalaman yang mantap tidak memerlukan eksternal factors untuk merasa bahagia. 


Cukuplah dengan imannya.


Not expecting good things to happen to feel good.

Not expecting gifts/praises to feel appreciated.


Untuk bahagia jangan tunggu benda baik jadi. Grad, kahwin, dapat kerja best etc. Sebab unfortunately manusia yang bersandar pada keinginan2 ni semata-mata sebenarnya berjiwa lemah, kerana dia expect dunia yang memberi bahagia.

While dunia ni cuma ujian."

 T.T



Jadi, selagi ianya sesuatu yang kita masih mampu dan perlu, mari belajar untuk ikhlas.


And reduce our expectations from human. Kerana manusia adakalanya lupa berterima kasih pada Tuhannya, apatah lagi sesama manusia..

Expect only from Allah. 

He will grant you, until you satisfied. (93:5)
















Thursday, December 31, 2015

Syurga yang tak dirindukan.

Bismillahirrahmanirrahim..

Sudah agak lama tidak menulis di sini. Dah nak masuk tahun baru pun.


Alhamdulillah.

Alhamdulillah 2x lagi 

dan seterusnya.



:')


Kali ini agak panjang, hu. Walaupun belum tentu ada yang membaca, namun tidak mengapa. Kerana bagi aku, penulisan ialah sesuatu yang istimewa. 

Ada yang menjadikannya khusus sebagai medan dakwah,

ada yang mencari rezeki dengannya, 

dan bagi aku, penulisan ialah satu bentuk 'reminder'. Juga ruang untuk aku selalu 'check and balance'. I dont have instagram to scroll my year, facebook juga tiada apanya. Aku hanya ada ruangan ini, untuk discroll and tune muhasabah mode tu.

:')

Kerana kita ni sungguh manusia, pelupa. Dan tidak mustahil jatuh ke lubang yang sama buat kali kedua. Adakalanya Allah dah bagi ujian tu, dan kita dah susah payah melaluinya, namun masih stumble bila diuji benda yang sama. 

Begitulah tamparan yang aku rasakan pada hari ini. 

Pagi tadi final exam OSCE bagi posting orthopaedics.


Ada 6 soalan klinikal, dan dua stesen untuk praktikal (short case). Walaupun hampir semua soalan klinikal rasa-rasa dapat jawab, namun air mata tu rasa nak keluar sangat-sangat, hanya kerana kesilapan di dalam satu stesen short case. Kerana ianya kesilapan yang berulang. 

About three months ago in hand clinics, 


"Athina, please examine this patient hand."- Prof J

**Baru belajar, buat pun berterabur.** 

Prof macam biasa, sangat sabar dengan ke'blurr'an kami. hu. In the end, he commented,

"First of all the exposure is not adequate. See, you missed the scar high up here. That is why this patient have pointing index finger." (sign of benediction) - Prof J


I thought I have learnt my mistakes. I thought so.

Entah kenapa, di saat aku mendapat patient yang hampir serupa untuk short case tadi, aku tetap melakukan kesilapan dan gagal memberi diagnosis yang betul. Terlalu gugup. Malah ianya lebih menyakitkan kerana its about the same thing. 

And the Deja Vu is killing. The mind replays what the heart can't delete. Astaghfirullah.





Kerana itu,

Jangan sangka bahawa kita sudah cukup terlatih walaupun pernah go through experiences tu. Mungkin belum cukup. Sebab tu Allah selalu uji kita berulang kali benda yang sama, sampai kita lulus. Betapa sayangnya Allah pada kita, Dia nak kita pass.

Seperti di dalam dunia perubatan, kita mendapatkan title specialist dengan latihan, dan diberi exposure sebanyak mungkin hingga boleh pass the exam for master. Namun untuk menjadi seorang consultant, the main thing is experiences. Pengalaman.

Same goes to tarbiyyah. 

Kalau medical school melatih seorang bakal doktor, Madrasah tarbiyyah melatih kita hingga jadi individu muslim yang sohih. Dan ingatlah, tidak semua orang dapat nikmat memasuki madrasah tarbiyyah dan kekal di dalamnya.

Kita sungguh-sungguh pergi teaching, lectures, sebab nak jadi doktor tu. Namun tak bersungguh nak jadi individu muslim. Kita takut repeat year dan nak kejar grad tu, namun tak takut bila stagnant je dalam tarbiyyah.

Ponteng dauroh,

Culas berusrah,

Mutabaah amal ke laut. 


This is for me.

**air mata mengalir laju**


Allah tahu, kita sibuk. Kerana itu Dia selalu memaafkan, dan tidak membenci hamba-hambaNya. Namun, jujurlah kita pada diri. Sekurang-kurangnya berusaha mencari kesempatan tu.


**********************************************

Student medic UKM kebanyakannya tahu,

Grad medic ukm berlangsung di panggung seni UKM Bangi tu. Paling koman kita tahu jubahnya berwarna merah. Huhu. Dan setiap tahun jugalah kita meleleh air liur menatap gambar senior-senior berjubah merah. Mereka meloncat kegembiraan.

Bayangkan grad yang satu lagi pula. 

Ianya termaktub akan berlangsung di syurga sana tu. 

I repeat, syurga.

Dan tahukah kalian, betapa susahnya nak grad madrasah yang satu ni?

T____T

Waktu tu, orang yang grad akan disaksikan juga, oleh para malaikat dan ahli neraka.

Allahu.

**Nangis lagi**


Aku teringat satu babak di dalam filem Indonesia, syurga yang tak dirindukan. Di saat teman Pras, Amran sedang memujuk Arini dengan menggambarkan indahnya memasuki syurga jika kita sanggup berkorban. Dan Arini membalas,

"Syurga yang mas Amran gambarkan begitu indah, 

tapi maaf, bukan syurga itu yang aku rindukan."


Peh T.T


Di saat itu, Arini masih terluka. Namun kemudiannya, dia sembuh justeru berjaya melawan perang dan rajuk hatinya. Seperti kita, sentiasa dengan berbagai macam rajuknya, dan Allah tidak pernah jemu memujuk 

Sentiasalah rasa pujukan Allah tu, kerana Dia tidak pernah meninggalkan kita. Teringat pesanan murobbi suatu masa dahulu,

"Jika kita benar-benar merasakan kasih sayang Allah, angin yang bertiup lembut di pipi sekalipun akan rasa, bahawa Allah sedang memujuk."

Faghfirru ilallah :')







Saturday, November 28, 2015

Escapism

Bismillahirrahmanirrahim..

Ada satu pengisian dari slot proTaz siang tadi yang terkesan di hati, ringkas namun kena pada masanya.

"Penyakit biasa bisa diubati dengan rawatan medis, namun ketahuilah bahawa jiwa yang kosong itu hanya mampu diisi dengan spiritual." 

Secara fizikalnya, memang pesakit itu sakit.

Namun adakalanya sakit yang lebih parah itu ditemukan di dalam jiwa. Namun sayang sekali, tiada yang peduli untuk mencari penawarnya.







Adakalanya saat kita bersendiri, kita menangis.

Berehat beberapa minit, terasa gelisah.

Setiap hambatan dan tuntutan memenuhi fikiran.

Kehendak yang jarang sekali terpenuhi.

Perasaan yang sukar sekali diuruskan.

Tidur dengan rasa resah

Sakit jiwa.


.............................................

Sangat sering sebenarnya, kita mengabaikan diri dari sudut spiritual.  Jujur aku katakan, di saat perkara ini berlaku pada diri, sakitnya tak terperi.

Beberapa hari lepas aku diuji dengan tertariknya nikmat 'sihat'. Kerja kian menimbun, ada kuiz, ada juga dateline yang perlu dikejar. Aku makan paracetamol mengikut dose. Ku pastikan cukup. Ditambah lagi dengan ubat selsema dan batuk. Malah ini kali pertama aku telan semua tanpa ragu lagi, kerana macam mana sekalipun semua kerja harus selesai. 

Namun entah kenapa aku tetap tak larat. Perasaan yang lelah beberapa waktu ini menjadikan aku tidak bersemangat melawan. Tubuh seolah-olah menyerah kalah. Makin dipaksa makin kalah.  Masa terbazir dengan lelap yang tidak direlakan.

Hingga akhirnya saat beberapa minit pejabat mahu ditutup, aku masih menyiapkan case report. Ini bukan epik, tapi pathetic.

............................................

Siang tadi aku menziarah ibu saudaraku yang sakit kanser di HKL. Dia masih berbual seperti biasa, namun aku melihat semangat yang makin pudar di wajahnya. Tidak lagi seperti dulu.

"Kanser ini tidak sembuh. Tidak berkurang." 

Hanya itu katanya yang terngiang-ngiang di fikiranku.


Di dalam perjalanan pulang, bapaku bersuara,

"Sakit ni adakalanya datang dari jiwa yang tertekan. Bukan tertekan kerana kerja, namun kerana kerisauan yang berpanjangan. Jiwa yang tidak tenang."


Ya Allah..






Jangan sampai kita melepasi threshold 'bearable pressure' tu, kerana takut kita akhirnya merawat diri dengan painkiller yang salah, yakni escapism. Penyakit kita tidak sembuh, namun kita sekadar bergantung pada 'painkiller' ni sebab takutkan kesakitan tu.


:(

Saturday, October 17, 2015

kotoran

Bismillahirrahmanirrahim,



aku mengenal dengan baik siapa diriku,
dulu dia adalah setetes air yang hina,
kelak akan menjadi sekujur bangkai yang membusuk.
Kini dia berada di antara dua hal itu
hilir mudik ke sana ke mari membawa kotoran.

ya, kotoran.





Di dalam ukhuwwah, adakalanya terdapat perkara yang menyakitkan cenderung untuk menjadi lebih sakit daripada biasa.

Kerana di dalam ukhuwwah kepercayaan ialah sesuatu yang tidak boleh tiada.

Kerana mempercayai akhawatlah kita berlapang dada,

Kerana percaya juga kita sudi untuk bertimbang rasa.

..............................................

Aku diingatkan, bahawa untuk menjaganya cukuplah dengan adanya iman.

Ini ayat legend. 



"Cukuplah dengan iman."





**tersenyum sendiri**


Ku katakan,  Jiwa yang beriman tidak akan saling menyakiti. 

Atau sekurang-kurangnya aku ingin kalian tahu, bahawa aku juga seperti kalian, kita mempelajari Al-Quran yang sama. 

Jika 'sirr' yang kalian cuba pertahankan, ketahuilah bahawa di kebanyakan masa aku tidak peduli pun mengenai apa yang kalian cuba sembunyikan. Senang cerita, itu bukan isunya.

Namun sikap kalian itu yang terlebih sering menganggu dan melukakan hati. Fikrah kalian terlalu mendalam, sosok kalian terlalu ekslusif, jiwa kalian terlalu syadid hingga diri yang tidak seberapa ini terasa jauh walaupun hanya sebelah-menyebelah.

Maka, maafkanlah bila diri ini tak mampu untuk berukhuwah sehangat matahari. Kerana jiwa ini belum sebesar bumi. 

Maafkanlah jika ketegasan ini makin sukar dilentur, kerana aku perlu sedikit ruang konsentrasi. 






Seperti di waktu peperiksaan, bila ada satu soalan yang aku tak tahu jawapannya, justeru aku tinggalkan. Dengan harapan agar dapat kembali memikirkannya. Namun jika ianya tetap menjadi tanda soal, aku akan pilih satu jawapan dengan ijtihad dan tawakkal.

Begitulah perjalanan kita. Kemampuan kita terbatas.

Sekadar menangani perbezaan, ianya lebih basis daripada yang kita sangka.  


"Kita harus belajar untuk menerima bahwa sudut pandang orang lain adalah juga sudut pandang yang absah. Sebagai seorang mukmin, keberbedaan dalam hal-hal bukan asasi tidak lagi terpisah sebagai 'haq' dan 'bathil'. Istilah yang lebih tepat mungkin ialah 'shawab' dan 'khatha' (menggunakan persangkaan yang kuat).

Tempaan pengalaman yang tak serupa akan membuatnya lebih berlainan lagi antara satu sama lain. Seyakin-yakinnya kita dengan apa yang kita fahami, itu tak seharusnya membuat kita terbutakan dari kebenaran yang lebih bercahaya." 
(Salim A. Fillah)


Mungkin kita lupa, bahawa di dalam berprinsip, para sahabat sendiri berbeza-beza. Malahan Abu Bakr, Umar dan Usthman r.a tidak mempunyai prinsip yang sama di dalam rentak pemerintahan. Usthman r.a pernah berkata,



"Adapun Abu Bakr, Allah memberinya waktu yang sempit dan dia habiskan itu untuk mengembalikan ketaatan orang-orang. Adapun Umar r.a, sungguh dia ialah orang yang tak ingin ada yang berubah dari masa Rasulullah sehingga dia memaksa manusia dengan perintah dan cambuknya. Dia kuat dan mampu meski rakyatnya berasa berat dan sempit. 
Adapun aku, adalah orang yang berlapang dada atas segala keadaan dan kenyataan mereka." 
(Dalam Dakapan Ukhuwah)



Di mana sekalipun kita memilih, itu bukan persoalannya dan diri ini cukup matang untuk memahami. Engkau tidak perlu mencari insan sekandang untuk berbicara mengenai dakwah atau tarbiyyah, kerana kita sama-sama mengaku dai'e dan ribbiyyun atas nama. 

Cukuplah kita menjaga taqwa di dalam diri. 

InsyaAllah, semoga bertemu di syurga.. :)



3rd trimester.

Bismillahirrahmanirrahim. Its very difficult to update blog nowadays. Hu. Last time when I updated, I was in my first trimester of my pr...